Tampilkan postingan dengan label Karya Tulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Karya Tulis. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 April 2010



BAB I

PENDAHULUAN


Museum Bali adalah salah satu museum di Bali yang menyimpan peningggalan masa lampau manusia dan etnografi. Museum Bali terletak di pusat kota Denpasar, di sebelah timur Lapangan Puputan Badung. Museum Bali dibangun pada tahun 1910 dan menggunakan arsitektur tradisional dengan ornamen khas Bali. Bentuk bangunannya memanjang dari utara ke selatan yang terbagi menjadi dua bagian. Di komplek bangunan baru ini terdapat gedung perpustakaan, gedung pameran sementara, dan kerkyangan. Seluruh komplek bangunan baru berfungsi untuk administrasi dan penyelenggaraan pameran sementara atau pameran berkala yang diselenggarakan oleh Museum Bali sendiri atau instansi tertentu lainnya. Pementasan atau pertunjukan kesenian juga dilakukan di komplek bangunan baru di bagian selatan.

Struktur fisik bangunan-bangunan di Museum Bali ini mengikuti struktur fisik bangunan Kraton (Puri) atau tempat pemujaan (Kahyangan, Pura Merajan) berdasarkan konsep Tri Mandala. Di pojok depan sebelah kanan di bagian tengah terdapat sebuah bangunan yang disebut Bale Bengong. Dipojok depan di sebelah kiri terdapat sebuah bangunan yang disebut Bale Kulkul. Di bagian inti (Jeroan) terdapat bangunan yang terdiri dari tiga gedung, yaitu Gedung Tabanan di sebelah utara, Gedung Karangasem di sebelah tengah-tengah, dan Gedung Buleleng di sebelah selatan. Fungsi dari ketiga gedung ini adalah untuk penyelenggararan pameran tetap.

Gedung Tabanan digunakan sebagai tampat pameran koleksi barang-barang kesenian dan etnografi. Gedung Karangasem digunakan sebagai pameran benda-benda prasejarah, arkeologi sejarah, etnografi, dan seni rupa serta beberapa lukisan morder. Sedangkan untuk Gedung Buleleng digunakan sebagai tempat pameran koleksi alat-alat perlengkapan rumah tangga, alat-alat kerajinan, alat-alat pertanian dan nelayan, alat-alat hiburan, patung-patung gaya sedehana dan primitif yang terbuat dari tanah liat, batu dan lain sebagainya.

Tujuan didirikannya Museum Bali adalah untuk menampung, menyimpan, melestarikan benda-benda budaya masa lampau agar dapat memberikan suluh bagi generasi sekarang dan mendatang. Jumlah koleksi Museum Bali yang telah tercatat dan masuk registerasi sebanyak 10.506 buah, termasuk naskah-naskah dan salinan lontar. Semua jenis koleksi didapatkan melalui membeli dari orang-orang di masyarakat, toko-toko kesenian hadiah-hadiah, dan titipan. Beberapa kelompok koleksi yang sedang diinventarisasikan diantaranya koleksi stupa dengan materainya yang berjumlah ratusan buah, 8,5 kg uang kepeng, keramik asing (Eropa dan Cina), dan porselin yang berasal dari Jepang, Cina, dan Siam.

Dari latar belakang tersebut di atas mengenai Museum Bali maka saya memilih Museum Bali sebagai objek kunjungan daripada kegiatan penelitian Antropologi/Sejarah saya mengenai peninggalan benda-benda sejarah purbakala dan berbagai kebudayaan masyarakat pada jaman dahulu.



BAB II

PEMBAHASAN ISI


Museum Bali terletak di pusat kota Denpasar, di sebelah timur Lapangan Puputan Badung. Museum Bali ini menggunakan arsitektur tradisional dengan ornamen khas Bali. Bentuk bangunannya memanjang dari utara ke selatan yang terbagi menjadi dua bagian. Di komplek bangunan baru ini terdapat gedung perpustakaan, gedung pameran sementara, dan kerkyangan. Seluruh komplek bangunan baru berfungsi untuk administrasi dan penyelenggaraan pameran sementara atau pameran berkala yang diselenggarakan oleh Museum Bali sendiri atau instansi tertentu lainnya. Pementasan atau pertunjukan kesenian juga dilakukan di komplek bangunan baru di bagian selatan.

Struktur fisik bangunan-bangunan di Museum Bali ini mengikuti struktur fisik bangunan Kraton (Puri) atau tempat pemujaan (Kahyangan, Pura Merajan) berdasarkan konsep Tri Mandala, antara lain yaitu Nista Mandala, yaitu Jaba Pisan (bagian luar), Madya Mandala, yaitu Jaba tengah (bagian luar sebelum memasuki bagian inti), dan Utama Mandala, yaitu Jeroan (bagian inti)

Di pojok depan sebelah kanan di bagian tengah terdapat sebuah bangunan yang disebut Bale Bengong. Dipojok depan di sebelah kiri terdapat sebuah bangunan yang disebut Bale Kulkul. Di bagian inti (Jeroan) terdapat bangunan yang terdiri dari tiga gedung, yaitu Gedung Tabanan di sebelah utara, Gedung Karangasem di sebelah tengah-tengah, dan Gedung Buleleng di sebelah selatan. Fungsi dari ketiga gedung ini adalah untuk penyelenggararan pameran tetap.

Gedung Tabanan digunakan sebagai tampat pameran koleksi barang-barang kesenian dan etnografi. Gedung Karangasem digunakan sebagai pameran benda-benda prasejarah, arkeologi sejarah, etnografi, dan seni rupa serta beberapa lukisan morder. Sedangkan untuk Gedung Buleleng digunakan sebagai tempat pameran koleksi alat-alat perlengkapan rumah tangga, alat-alat kerajinan, alat-alat pertanian dan nelayan, alat-alat hiburan, patung-patung gaya sedehana dan primitif yang terbuat dari tanah liat, batu dan lain sebagainya.

Tujuan didirikannya Museum Bali adalah untuk menampung, menyimpan, melestarikan benda-benda budaya masa lampau agar dapat memberikan suluh bagi generasi sekarang dan mendatang. Jumlah koleksi Museum Bali yang telah tercatat dan masuk registerasi sebanyak 10.506 buah, termasuk naskah-naskah dan salinan lontar. Semua jenis koleksi didapatkan melalui membeli dari orang-orang di masyarakat, toko-toko kesenian hadiah-hadiah, dan titipan. Beberapa kelompok koleksi yang sedang diinventarisasikan diantaranya koleksi stupa dengan materainya yang berjumlah ratusan buah, 8,5 kg uang kepeng, keramik asing (Eropa dan Cina), dan porselin yang berasal dari Jepang, Cina, dan Siam.


1. Gedung Tabanan

Gedung ini mencerminkan arsitektur Bali bagian selatan. Pada masa kerajaan, bangunan ini berfungsi sebagai tempat menyimpan pusaka. Benda budaya yang dipamerkan berupa peralatan seni tari dan tabuh tradisional. Peralatan tari antara lain Tari Sanghyang, Tari Barong, Wayang Wong. Sedangkan alat tabuh antara lain yaitu, suling, rebab, kempli, cengceng, rindik, dan lain-lain. Itulah sebagaian dari barang-barang di Gedung Tabanan.

Selain itu juga, terdapat pula macam-macam peralatan kesenian dan berbagai macam topeng di Gedung Tabanan sebagai berikut ini, yaitu :

1) Barong Landung (lanang-istri) adalah wujud raksasa mitologi berbadan tinggi, terbuat dari anyaman bambu, kain, bulu, dan kayu.

2) Tari Sanghyang (tari kesurupan atau istilah dalam Bahasa Bali “kerauhan”) adalah salah satu dari sekian banyak Tarian Wali (Tarian Sakral) yang disucikan pada waktu penerima dirasuki dewa-dewa/yang memasuki roh.


2. Gedung Karangasem

Gedung ini mencerminkan arsitektur berbentuk bale panjang yang pada masa kerajaan digunakan untuk raja menerima perdana Menteri atau tamu-tamu penting lainnya. Gedung ini memamerkan perlengkapan yang perhubungan dengan upacara Panca Yadnya (lima korban suci dalam Agama Hindu) meliputi Dewa Yadnya, Pitra Yadnya, Manusa Yadnya, Rsi Yadnya, dan Bhuta Yadnya.

Disamping itu juga dilengkapi dengan Pedewasan (sejenis kalender untuk memberi hari baik melaksanakan upacara). Adapun benda budaya yang dipamerkan antara lain yaitu, Pratima (patung perwujudan dewa dan dewi), Pralingga (binatang mitologi kendaraan dewa dan dewi), Prarai (gambar simbol wajah orang yang meninggal), Maket Ngaben, Maket upacara Potong Gigi, Kisa (keranjang untuk membawa ayam aduan dan taji), Tika, dan Palelindon (sejenis kalender).

Nama gedung ini diambil dari nama Kabupaten Karangasem Bali bagian timur yang telah membangun gedung ini (1925) untuk Museum Bali. Gedung ini menyerupai sebuah bentuk Bale Panangkilan (bale tempat menghadap raja) dengan gaya arsitektur Bali bagian timur dikombinasikan dengan bangunan pura dan disesuikan dengan kebutuhan museum.


a. Palelintangan

Sebuah kalender untuk mengetahui hari kelahiran dan pengaruh alam terhadap watak manusia. Kelender Palelintangan ini terdiri dari 35 hari perpaduan antara Sapta Wara (7 hari) Minggu–Sabtu berderet dari kanan ke kiri dengan Panca Wara (5 hari) Umanis–Kliwon berderet dari atas ke bawah. Masing-masing hari diberi gambar yang menunjukan sifat-sifat manusia yang lahir pada hari tersebut.


b. Lontar

Lontar adalah naskah yang ditulis di atas daun lontar yangn dipotong berukuran 20-40 cm memakai pisau runcing dan kemudian ditutup dengan warna hitam (Mangsi) untuk memperjelas huruf yang ditulis dengan huruf dan Bahasa Bali, pada umumnya memuat syair-syair cerita (Kekawin) Ramayana dan Mahabrata, hikayat raja-raja (Babad), peraturan-peraturan adat (Awig-Awig), dan sebagainya.


3. Gedung Buleleng

Gedung ini mencerminkan arsitektur Bali bagian utara dengan gaya khas Sendi Tugeh yang memakai hiasan patung singa bersayap (Singa Ambaraja). Gedung ini memamerkan perkembangan kain tradisional Bali berdasarkan proses pembuatannya dari yang sederhana sampai yang rumit sekalipun. Adapun jenis-jenis kain tersebut seperti, Kain Polos, Kain Poleng, Kain Endek, Kain Cepuk, Kain Gringsing, Kain Songket, dan Kain Perada.

Selain benda budaya berupa kain dilengkapi juga dengan peralatan tenun tradisional Bali yang disebut dengan “Cagcag” istilah Nasional adalah alat tenun bukan mesin (ATBM).


a. Kain Poleng

Salah satu kain yang berada di Gedung Buleleng yang merupakan kain yang terdiri dari warna hitam dan putih masing-masing berbentuk segi empat yang memiliki makna religius, yaitu hitam dan putih yang berarti simbol dari Rwa Bhineda yaitu kebaikan dan keburukan.

Kain ini umumnya digunakan sebagai saput pada tugu, patung penjaga (Bhuta Kala), tokoh-tokoh pewayangan seperti Hanoman dan Bima.


b. Kain Cepuk

Adalah kata yang dipakai pada waktu upacara Manusa Yadnya dan Dewa Yadnya khususnya oleh masyarakat di Pulau Nusa Penida dan Desa Tenganan. Kain tersebut dibuat dengan benang Bali dan warna-warna alam. Dibuat dengan teknik ikat tunggal.


c. Kain Songket

Kain songket adalah kain yang dibuat dengan teknik menyisipkan/mengkaitkan/mengungkitkan benang yang berwarna untuk dijadikan motif tertentu, umumnya motif flora. Kain ini biasanya dipakai oleh keluarga raja pada waktu upacara agama (Manusa Yadnya dan Dewa Yadnya). Ini merupakan kain dari pakaian adat khas Bali.


d. Kain Perada

Kain polos yang diberi hiasan motif flora dan fauna dilukis dengan cat perada warna emas. Kain ini umumnya dipakai untuk hiasan pada bangunan suci pada waktu upacara agama dalam bentuk dewa-dewa, pedapa, tabing, tungse, dan sebagai pakaian adat pengantin/pakaian adat khas Bali.



GEDUNG JAMAN PRA SEJARAH (GEDUNG TIMUR)


Pada ruangan ini dipamerkan koleksi berbagai jaman sejarah di Bali yang meliputi sebagai berikut ini, yaitu :


1. Koleksi pada Jaman Prasejarah di Bali dikelompokan menjadi 4 masa, yaitu :

Ø Masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat sederhana (± 1.000.000 – 200.000 SM). Pada masa ini manusia hidup berpindah-pindah (nomaden) dan mengembara dari suatu tempat ke tempat yang lain. Peralatan yang digunakan untuk berburu dan memotong hasil buruan terbuat dari batu yang dibuat masig sederhana dan kapak yang disebut dengan kapak genggam.

Ø Masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut (± 200.000 – 3.000 SM). Manusia mulai mendiami goa-goa untuk dijadikan tempat tinggal mereka yang sederhana.

Ø Masa bercocok tanam (± 30.000 – 600 SM). Taraf kehidupan mulai meningkat dengan mulai merabas hutan untuk bahan pertanian, mendirikan rumah tempat tinggal menetap dan berkelompok. Mereka juga membuat kerajinan anyam-anyaman, gerabah, perahu bercadik untuk berlayar. Alat-alat berupa kapak persegi, beliung persegi, dll.

Ø Masa perundagian (± 600 – 800 SM). Adanya kemajuan seperti ditemuknnya banda-benda dari perunggu yang dibuat teknik melebur biji-biji logam dan dicor untuk peralatan rumah tangga, senjata tajam, perhiasan seperti gelang tangan, gelang kaki, anting-anting, kalung, dan lain-lain. Juga ditemukannya nekara pada masa ini.


2. Koleksi pada Jaman Sejarah di Bali dikelompokan menjadi 3 jaman, yaitu :

Ø Jaman Bali Kuno/Bali mula (± 8.000 – 1.343 M)

Ø Jaman Bali Pertengahan/Bali Aga (± 1.343 – 1.846 M)

Ø Jaman Bali Baru/Bali Anyar (± 1.846 – sampai sekarang)



JAMAN BALI KUNO / BALI MULA


Koleksi ini dipamerkan antara lain berupa Stupa yang berbentuk mini dan Stupa yang terbuat dari tanah liat dan di dalamnya terdapat materai dan tablet yang bertuliskan Huruf Pranagari dan berbahasa Sansekerta yang berbunyi mantra-mantra pujian kepada Sang Buddha.

Ditemukan pula arca dari batu dan perunggu pada masa ini juga cukup banyak, diantaranya merupakan Arca Dewi Taru, Arca Dewi Maduri, dan lain-lain sebagai media penghormatan hidup raja yang telah didewakan. Sistem perdagangan juga telah berlangsung, terbukti dari peninggalan matauang emas, palu, dan kepeng bolong. Juga terdapat bangunan-bangunan suci berupa Candi Gunung Kawi, Goa Gajah, Yeh Puluh, dan lain-lain.

Ditemukan pula Sarkofagus, yaitu peti mayat dari batu yang dipergunakan untuk mengubur jenazah seorang yang memiliki status di masyarakat, seperti kepala suku atau pemimpin masyarakat pada jaman prasejarah atau masa perundagian (± 600 SM – 800 M). Berukuran paling kecil untuk mayat ditekuk 3 diketemukan di Petang, Badung Utara dan di Desa Nongan, Karangasem. Ada 3 ukuran Sarkofagus, ukuran terbesar untuk mayat terlentang, ukuran menengah untuk mayat yang ditekuk 2, dan yang terkecil untuk mayat yang ditekuk 3. begitulah Sarkofagus yang telah ditemukan pada Jaman Bali Kuno.



JAMAN BALI BARU / BALI ANYAR


Jaman ini berawal dari hubungan dagang antara raja-raja Bali dengan Pemerintahan Kolonial Belanda yang berkedudukan di Batavia. Hal ini kemudian berlanjut dengan niat Belanda untuk menguasai Kerajaan Bali. Upaya Belanda kemudian ditentang oleh raja-raja Bali dengan berawalnya Perang Puputan Badung (perang habis-habisan) di Buleleng, Jagaraga Bali Utara (1846), Puputan Badung (1906), dan Puputan Klungkung (1908) yang berakhir dengan kemenangan pihak Belanda.

Setelah dikuasai oleh Belanda, mulai tampak adanya perubahan-perubahan atau pembaharuan yang sangat mendasar antara lain sistem pemerintahan yang sebelumnya kerajaan yang bersifat absolut kemudian menjadi pemerintahan yang bersifat hukum. Sektor pendidikan juga mulai diperlihatkan melalui pelajaran di sekolah-sekolah.



BAB III

KESIMPULAN DAN SARAN



Museum Bali adalah museum yang menyimpan berbagai macam peningggalan masa lampau manusia dan etnografi di dalamnya. Museum Bali terletak di pusat kota Denpasar. Museum Bali menggunakan arsitektur tradisional dengan ornamen khas Bali. Bentuk bangunannya memanjang dari utara ke selatan yang terbagi menjadi dua bagian. Struktur fisik bangunan-bangunan di Museum Bali ini mengikuti struktur fisik bangunan Kraton (Puri) atau tempat pemujaan (Kahyangan, Pura Merajan) berdasarkan konsep Tri Mandala. Di bagian inti (Jeroan) terdapat bangunan yang terdiri dari tiga gedung, yaitu Gedung Tabanan di sebelah utara, Gedung Karangasem di sebelah tengah-tengah, dan Gedung Buleleng di sebelah selatan. Gedung Tabanan digunakan sebagai tampat pameran koleksi barang-barang kesenian dan etnografi. Gedung Karangasem digunakan sebagai pameran benda-benda prasejarah, arkeologi sejarah, etnografi, dan seni rupa serta beberapa lukisan morder. Sedangkan untuk Gedung Buleleng digunakan sebagai tempat pameran koleksi alat-alat perlengkapan rumah tangga, alat-alat kerajinan, alat-alat pertanian dan nelayan, alat-alat hiburan, patung-patung gaya sedehana dan primitif yang terbuat dari tanah liat, batu, dsb.

Di sini dimaksudkan bahwa, kita seharusnya dapat saling mampu menjaga warisan benda-benda ataupun kebudayaan nenek moyang kita dengan baik walaupun itu sebagaian bisa dibilang tidak utuh lagi. Saya menekankan agar semua pihak ikut serta ke dalam penjagaan atau perwatan benda-benda peninggalan sejarah tersebut dalam rangka kepedulian kita terhadap hasil karya cipta, rasa, dan karsa manusia dari dulu sampai dengan sekarang. Untuk itu perlu kesadaran bersama untuk saling menjaga dan merawat benda-benda peninggalan sejarah purbakala serta melestarikan berbagai kebudayaan nenek moyang kita agar nantinya dapat dirasakan oleh generasi muda selanjutnya.

read more...

Rabu, 17 Maret 2010

Tanaman Buah Cokelat



BAB I


PENDAHULUAN


Cokelat atau oleh para ahli diberi nama Theobroma cacao, ini memang mengandung arati tersendiri. Dalam bahasa Yunani, Theos bearti Dewa atau Thian dalam bahasa Cina. Sedangkan Broma ini berarti santapan. Hingga dengan demikian nama Theobroma ini diartikan santapan pada dewa.
Nama cacao, bukanlah berasal dari bahasa Yunani, akan tetapi berasal dari bahasa Aztek, di daerah Mexico Amrika Tengah.
Cokelat pada waktu itu benar-benar sangat berharga. Apalagi bagi suku Aztek, hingga sesuai dengan namanya yang disebut-sebut sebagai santapan para dewa. Bahkan di Istana Montezuma, yang merajai suku Aztek. Biji cokelat ini dapat dipergunakan sebagai alat pembayaran yang sah. Jadi nilai cokelat sama dengan uang. Misalkan saja seorang ingin membeli seekor kelinci atau budak belian, maka orang tersebut cukup menyediakan sepuluh biji cokelat untuk ditukar kelinci dan seratus biji cokelat untuk membeli budak belian. Bukan hanya itu, di kalangan suku Aztek, pembayaran pajak dapat dilakukan dengan cara memberi biji cokelat.



BAB II

SYARAT TUMBUH TANAMAN COKELAT


A. Iklim
Semua tanaman cokelat dalam keadaan aslinya adalah pohon-pohon yang terdapat dalam hutan tropis, masalah kelembapan dan temperatur agak menonjol pengaruhnya. Dengan demikian dapat kita simpulkna kelau pohon cokelat memerlukan tempat-tempat yang lembap dan panas.
Batas-batas geografis dalam menanam cokelat adalah 20 Lintang Utara dan 20 Lintang Selatan dari garis khatulistiwa. Akan tetapi kalau untuk usaha yang akan memberikan keuntungan, daerah tanam yang paling baik dan cocok adalah 10 Lintang Utara dan 10 Lintang Selatan.
Hampir setiap perkebunan cokelat diusahakan di daerah-daerah dataran rendah. Demikian juga di Indonesia, semua perkebunan cokelat terletak di dataran-dataran rendah ataupun di lereng-lereng gunung dengan ketinggian 500 m dari permukaan laut.
Hujan Tropis Upper Amazone adalah daerah asal tanaman cokelat, yang tumbuh terlindung dari pohon-pohon hutan yang lebih besar dari tanaman cokelat sendiri. Mungkin karena itulah orang beranggapan bahwa pohon cokelat perlu pohon pelindung.
Banyak percobaan-percobaan yang berhasil menunjukan kalau pohon cokelat itu tidak perlu pohon pelindung. Tetapi harus cukup tersedia air di dalam tanah dan cukup kebutuhan tentang unsur-unsur hara. Malahan dengan percobaan-percobaan itu memberikan hasil yang maksimal. Sehingga anggapan bahwa pohon cokelat perlu adanya pohon pelindung untuk hidupnya, menjadi kabur.

B. Tanah
Mengenai tanah untuk tanaman cokelat sampai saat ini belum ada kecocokan pendapat. Sebab sebenarnya cokelat dapat hidup pada semua jenis tanah. Hal yang terpenting adalah lapisan tanah harus dalam sehingga dapat memberi kesempatan pertumbuhan akar dengan bebas, dan kandungan bahan organik yang cukup, artinya tidak kekurangan air dan tidak pula terendam air untuk waktu lebih dari 24 jam.



BAB III

PEMELIHARAAN TANAMAN


A. Penyiangan
Penyiangan adalah pekerjaan perawatan yang pertama-tama dikerjakan. Sebab tanaman yang baru saja ditanam harus benar-benar bebas dari persaingan dengan rumput-rumput yang tumbuh di sekitarnya. Karena rumput itu termasuk pengganggu buat pertumbuhan tanaman cokelat.

B. Pemupukan
Pemupukan ini dimaksudkan menambah unsur-unsur yang kurang dalam tanah. Kalau dilihat dari laboratorium maka tanah di Indonesia ini pada umunya kekurangan unsur N, dengan demikian pemberian Urea atau ZA selalu memberi respon paling nyata.
Untuk tanaman cokelat, kalau kita memberikan pupuk, jangan sampai under ataupun overdosis, kita berikan sesuai dengan daftar dosis pemupukan dari saat tanam sampai tanaman cokelat mencapai keadaan produktif.

Umur
(tahun) Pemberian pupuk N
(ZA) Pemberian pupuk P
(DS) Pemberian pupuk K
(KC)
1 2 x 25 gram 2 x 12,5 gram 2 x 12,5 gram
2 2 x 50 gram 2 x 25 gram 2 x 25 gram
3 2 x 100 gram 2 x 50 gram 2 x 50 gram
4 2 x 200 gram 2 x 100 gram 2 x 100 gram
5 2 x 250 gram 2 x 125 gram 2 x 125 gram
6 dan seterusnya sama dengan pemupukan tahun ke-5



BAB IV

PENYAKIT, HAMA, DAN PEMBERANTASANNYA


A. Penyakit Pada Pohon Cokelat

1. Phytophthora Palmivora
Penyakit ini disebabkan jamur yang namanya Phytopthora Palmivora. Sedangkan gejala-gejalanya adalah sebagai berikut.
a. Busuk buah atau yang sering disebut black pod disease.
b. Kanker batang atau kulit menjadi busuk.
c. Matinya buah-buahan yang masih kecil dan kemudian berubah menjadi hitam.
d. Menyebabkan kematian di bedengan perkecambahan.

Cara Pemberantasannya
Cara pemberantasnya ialah dengan jalan mengiris atau memotong dan membersihkan kulit yang terkena sampai bagian yang sehat dan kemudian dilumas dengan Carbolineum Plantarium ataupun fungisida-fungisida yang lain. Biasanya masuknya phytopthora ke dalam kulit didahului oleh luka-luka mekanis.

2. Penyakit Akar
Penyakit akar ini serangannya tidak banyak, akan tetapi kalau tidak ditangani dengan serius atau bahkan dibiarkan saja, maka akan meluas dan tempat-tempat lowong menjadi banyak, lama-lama produksi bisa menurun karena jumlah pohon berkurang.

Cara Pemberantasannya
Pemberatasannya dilakukan dengan cara menggali sampai bersih akar tanaman cokelat yang sakit, setelah terkumpul, akar-akar itu dibakar. Kemudian satu deret di luar pohon tersebut dibuatkan saluran isolasi sedalam 160 cm untuk mencegah perluasan penyakit tersebut.


B. Hama Pada pohon Cokelat

1. Cacao Mot
Cacao mot menyerang pada buah. Kupu-kupunya adalah jenis kupu-kupu malam yang menyerang dan meletakkan telurnya setelah matahari terbenam. Telur tersebut diletakkan di permukaan tanah. Setelah telur tadi menetas dan menjadi bulat. Maka ulat-ulat kecil inilah yang kemudian membuat lubang dan masuk ke dalam buah cokelat. Mereka itu lalu tinggal di dalam buah, biji ataupun tempat-tempat saluran makanan.

Cara Pemberantasannya
Dahulu untuk memberantas cacao mot selalu dipakai sistem rampasan, artinya buah-buah yang menggantung di pohon pada bulan Oktober semua dirampas. Ini berarti mengorbankan ± 30 % seluruh produksi setahunnya, atau bahkan lebih. Dengan demikian dapat dipastikan kerugian paling sedikit 30 %.
Kerugian tersebut bisa bersifat ongkos dan mutu.
1. Ongkos rampasan, ongkos memecah buah yang lebih mahal.
2. Biaya lebih mahal sedangkan produksi lebih kecil.
3. Mutunya menjadi rendah sehingga mempengaruhi harga jual menjadi lebih rendah.

2. Helopeltis
Helopeltis ini disamping menyerang buah-buah dari segala umur, juga menyerang tunas-tunas yang masih muda. Akan tetapi hama ini lebih senang menyerang buah kalau dibandingkan dengan tunas-tunas yang masih muda. Sebab kalau memang tak ada buah, barulah hama helopeltis ini menyerang tunas-tunas muda.
Buah-buah cokelat yang diserang helopeltis ini akan kelihatan kalau ada bekas-bekas tusukan dan berupa bintik-bintik hitam pada permukaan buah. Kalau ada serangan yang hebat, maka seluruh permukaan buah menjadi busuk.

Cara Pemberantasannya
Cara memberantas hama helopeltis yang pernah dipraktekkan di perkebunan Jatirono dengan mempergunakan edrin 19,2 E C. dengan kadar 0,4 %. Percobaan ini ternyata mambawa hasil yang baik juga tak mempunyai pengaruh jelek dalam pembentukan buah.
Kemudian menyusul BHC Spray 0,5 % dan Basudin 60,02 %. Perlu diketahui bahwa sebaiknya waktu penyemprotan dilakukan malam hari antara pukul 18.00 – 20.00, sebab saat itu pergeraka helopeltis lebih lamban atau bahkan telah diam sama sekali.



BAB V

PANEN DAN PENGOLAHAN HASIL


A. Panen
Panen cokelat dimulai setelah buahnya masak. Buah yang telah masak dapat dilihat setelah ada perubahan warna. Buah yang tadinya hijau, jika telah masak akan berwarna kuning. Buah yang tadinya merah, setelah masak akan berubah warnanya menjadi oranye. Waktu yang dibutuhkan oleh buah dari mulai membentuk sampai masak adalah 6 bulan. Umumnya setelah 143 hari pertumbuhan buah sudah maksimum dan akan mulai masak. Setelah 170 hari buah telah menunjukkan tanda-tanda akan masak.
Buah yang telah dipetik kemudian dikumpulkan untuk dipecah dan dipisahkan antara biji dengan kulit buah. Di kebun biji-biji dapat disortasi dalam beberapa sortiran kebun sebagai berikut ini, yaitu :
a. Sortiran kebun nomor 1 : Biji yang berasal dari buah yang masak dan sehat
b. Sortiran kebun nomor 2 : Biji yang berasal dari buah yang cacat karena
diserang hama/penyakit buahnya kurang matang dan biji yang kotor kena tanah

B. Pengolahan Hasil
Untuk mendapatkan cokelat pasar (biji cokelat yang kering) dari biji-biji cokelat yang segar (biji cokelat yang masih basah) membutuhkan pengolahan lebih dahulu. Pengolahan biji cokelat basah sehingga menghasilkan biji-biji cokelat kering meliputi pekerjaan-pekerjaan sebagai berikut :
1. Pemeraman/fermentasi,
2. Pencucian,
3. Pengeringan, dan
4. Sortasi.

1. Fermentasi
Biji-biji dimasukkan dalam kotak fermentasi. Masa fermentasi pada kotak fermentasi yang ke-1 berlangsung 12 jam. Biasanya dari pukul 18.00 sampai pukul 06.00 pagi. Dari kotak fermentasi ke-1 kemudian dipindahkan ke kotak fermentasi ke-2.

2. Penyucian
Sebelum biji-biji cokelat yang habis difermentasikan itu dicuci, maka sebaiknya direndam lebih dulu selama 2 jam. Perendaman ini dimaksudkan untuk menaikkan prosentase biji-biji bulat naik, hanya saja berat biji bisa kurang.
Pencucian ini tidak perlu terlalu bersih karena :
a. Menyebabkan kulit biji menjadi lemah/mudah rapuh sehingga prosentase gruis bertambah,
b. Berat kurang, dan
c. Warna kurang menarik.

3. Pengeringan
Pengeringan biji cokelat yang dicuci mengalamai dua tahap. Tahap pertama dilakukan penjemuran di bawah sinar matahari. Untuk itu dipergunakan lantai penjemuran yang dibuat dari semen.

4. Sortasi
Sortasi sederhana yang sekarang biasa dipakai untuk membagi mutu, dibagi menjadi 5 golongan.
MUTU A : Warna merah/cokelat merata, biji bulat penuh.
MUTU B : Warna merah/cokelat kurang merata, bercak-bercak, biji kurang
bulat agak rusak sedikit.
MUTU C : Warna merah/cokelat tidak merata, biji gepeng dan keriput.
MUTU G : Campuran biji yang tidak berkulit dengan biji tidak pecah-pecah.
MUTU Z : Biji yang berwarna hitam yang meliputi biji-biji yang kotor kena
tanah, biji-biji bekas serangan penyakit/hama.
Setelah mengadakan sortir, biji-biji itu kita masukkan ke dalam karung goni sesuai dengan mutu-mutunya, baru kita menjualnya. Biasanya setiap karung diisi biji cokelat seberat 60 kg.

read more...

Sabtu, 13 Maret 2010

Pengetahuan Dasar Etika Hindu

A. PENGERTIAN ETIKA HINDU
Etika (Ethic = Bahasa Inggris) artinya, susila, kesusilaan, ilmu akhlak (Wojowarsito, 1992.48). Sila adalah salah satu kerangka dasar ajaran agama Hindu (Tatwa, Sila Upacara) atau merupakan ajaran pertama dan utama dari Saptangga Dharma, yaitu :
1. Sila = Kesusilaan
2. Yadnya = Persembahan suci
3. Tapa = Pengendalian diri
4. Dana = Berderma
5. Prawrjya = Menyebarkan Dharma
6. Diksa = Upacara inisisai
7. Yoga = Menunggalkan diri dengan Tuhan

Pada Sloka Wrehaspati Tattwa No. 25 itu dijelaskan bahwa, “Sila ngaranya mangrakascara rahayu”, yang artinya Sila adalah menjaga perilaku/kebiasaan agar tidak menyimpang dari norma-norma kebenaran dan kebaikan. Dengan lain katanya, memelihara perangai yang baik dan benar menurut Dharma Agama dan sosial budaya. Suatu perilaku dikatakan etis apabila; sopan, pantas/wajar, baik, dan benar sesuai norma dan nilai yang berlaku. Sedangkan norma atau aturan tingkah laku yang baik dan mulia disebut Tata Susila. (Mantra; 1988.5).

B. DASAR-DASAR ETIKA HINDU
Semua etika agama berdasarkan keimanan. Etika Hindu berdasarkan keimanan Hindu yang disebut Sraddha. Keimanan Hindu adalah lima pilar dasar keimanan Hindu yang disebut Panca Sraddha, dapat dijelaskan sbb :
1. Widdhi sraddha sebagai dasar etika Hindu.
Karena yakin bahwa Tuhan berada dimana-mana dan selalu ada serta maha tahu, mengetahui semua yang tampak dan tk tampak, maka menjadi alasan atau dasar yang mendorong orang untuk selalu menjaga perilakunya agar tidak menyimpang dari ajaran-ajaran Tuhan (Agama) dimana dan kapan pun, baik ada yang melihat maupun tidak. Walau hanya dalam angan atau pikiran saja semestinya tidak dibiarkan menyimpang karena Tuhan mengetahui apapun yang ada dalam pikiran manusia. Apalagi umat Hindu juga yakin bahwa Tuhan menyayangi orang-orang yang susila dan berbudi pekerti yang luhur.

2. Karena yakin dengan Atma adalah dewa yang memberikan kekuatan hidup pada setiap mahkluk, maha saksi yang tidak dapat ditipu, maka timbul etika tidak boleh bohong.
“Sanghyang Atma sirata dewa ring sarira, manoning ala ayu tan keneng in imur-imur.”
Artinya, Sanghyang Atma adalah dewa dalam tubuh, mengetahui palsu dan sejati (baik – buruk) tak dapat dikelabuhi (Sukantala . .)
Karena yakin bahwa pada dasarnya Atma semua makhluk adalah tunggal, tapi berbeda kondisinya karena karmanya dan tubuhnya masing-masing maka Hindu meyakini konsep “Bhineka – Tunggal” artinya berbdea-beda satu sama lain namun pada hakekatnya tunggal.
Berdasarkan kenyataan bahwa manusia keadaannya berbeda-beda, ada yang lebih tua, ada yang lebih muda, ada yang lebih tinggi statusnya, ada yang lebih rendah, maka orang ber-tata krama atau ber-etika; orang yang lebih rendah statusnya atau lebih muda umurnya patut menghormati yang lebih tinggi statusnya atau lebih tua umurnya, orang lebih tinggi statusnya atau lebih patut menghargai yang lebih rendah dan yang lebih muda. Berdasarkan keyakinan bahwa, pada hakekatnya semua Atma adalah tunggal, melahirkan fialsafat “Tat Twam Asi” artinya dia adalah kamu : melandasi serta mendorong etika untuk saling menghargai satu sama lain. Tat Twam Asi juga landasan dasar salah satu ajaran Etika Hindu : “Arimbawa” maksudnya punya pertimbangan kemanusiaan, punya rasa kasihan, ingin menolong, dapat memaafkan, sehingga dalam memperlakukan atau menindak orang lain mengukur pada diri sendiri. Sebelum bertindak tanya dulu kepada diri sendiri “Bagaimana seandainya aku diperlakukan artau ditindak demikian?” Bila menimbulkan rasa tak enak, menyakitkan, maka sebaiknya orang tidak diperlakukan demikian : bila menyenangkan atau membahagiakan (dalam arti positif) sebaiknya dilakukan.

3. Karena yakin dengan Hukum Karma Phala bahwa, setiap perbuatan pasti akan membawa akibat, maka orang menjaga sikap dan perilakunya agar selamat (anggraksa cara rahayu) termasuk menjaga pikiran.
“Yadiastun riangen-angen maphala juga ika”
Artinya, walaupun baru hanya dalam pikiran akan membawa akibat itu (ss).
“Siapakari tan temung ayu masadana sarwa ayu, nyata katemwaning ala masadhana sarwa ala”
Artinya, siapa yang tak akan memperoleh kebaikan bila sudah didasari dengan perbuatan baik?
Pastilah hal-hal yang buruk akan dituai bila didasari dengan perbuatan buruk (Arjuna 10.12.7). Keyakinan pada Karma Phala jelas menjadi dasar dan sekaligus kontrol dalam berpikir, berkata, dan berbuat. Demikianlah keyakinan pada Hukum Karma Phala menumbuhkan Etika Hindu.

4. Berdasarkan keyakinan pada Punarbhawa bahwa, bila orang berperilaku buruk dalam hidupnya akan lahir menjadi makhluk yang lebih rendah, mungkin menjadi manusia cacat bahkan mungkin menjadi binatang tergantung derajat keburukan perilakunya, sebaiknya bila dalam hidupnya didominasi oleh perbuatan-perbuatan baik, maka kelak ia akan lahir pada tingkat makhluk yang lebih mulia seperti menjadi manusia yang lebih rupawan, pintar, murah rezeki, memperoleh jalan hidup yang lebih baik, lebih berwibawa, dsb, maka mesti menjaga tingkah lakunya agar dapat menjelma dalam tingkat yang lebih tinggi derajatnya, lebih baik dalam segala hal, minimal tidak jatuh menjadi makhluk yang lebih rendah/lebih sengsara.

5. Karena yakin dengan adanya sorga yaitu alam tempat arwah yang sangat menyenangkan, alam tempat meinkmati suka cita bagi arwah yang pada waktu hidupnya banyak berbuat baik. Apalagi yakin dengan adanya moksa yang lebih tinggi lagi daripada sorga yaitu menyatunya Atma dengan Brahman (Tuhan) bagi yang berhasil melepaskan diri dari belenggu papa dengan berbuat baik (Subhakarma) menikmati “Sat cit ananda” atau “Suka tan pawali dukha”, artinya suka yang tak akan pernah kembali menemukan duka, dengan kata lain mencapai kebahagiaan abadi. Etika atau sila semakin menjauhkan orang dari neraka dan menghantarkan untuk semakin dekat dengan sorga dan moksa. Keyakinan ini mendorong orang untuk beretika, lebih semaangat untuk menegakkan sila dalam hidupnya.
Demikianlah dasar-dasar etika Hindu itu yang berpijak pada keimanan Hindu.

C. BENAR DAN SALAH
Berbicara soal benar dan salah dalam hubungan etika tidaklah seperti ilmu pasti. Ada yang memberikan batasan sebagai berikut :
“Segala sesuatu yang dapat menolong dunia ini melalui jalan yang telah ditentukan oleh Sang Hyang Widhi adalh benar, dan segala sesuatu yang menghalangi jalan ini adalah salah” (Mantra : 1983.91). Kalau kita berpikir secara hitam putih, maka dapat dikatakan sebagai berikut :
Benar adalah yang sesuai dengan norma-norma yang berlaku, dan semua yang melanggar norma adalah salah.
Norma itu adalah kaedah aturan, ada norma agama, ada norma hukum, norma kesusilaan, norma kewajaran, norma adat, dsb. Dalam kehidupan bermasyarakat tidaklah cukup mengukur benar dan salah itu dari cara-cara yang hitam putih itu yang hanya bersandar pada norma-norma. Karena variasi permasalahan ada bermacam-macam, maka masih diberlakukan pertimbangan-pertimbangan yang dibarengi dengan analisa-analisa sehingga kesimpulan tentang benar dan salah itu bijak dan arif. Disamping menentukan benar dan salah dengan norma-norma yang ada, juga sangat perlu mempertimbangkan :
1. Apa sebabnya dan apa motifnya perbuatana itu?
2. Apa ekses atau dampak yang dapat ditumbulkan?
Kalau berpikir secara hitam-putih, membunuh orang adalah salah, mencuri, berbohong adalah salah. Tapi ada orang membunuh pembunuh menyerangnya, dalam keadaan terdesak dan tak ada jalan lain yang dapat dipilih untuk menyelamatkan masyarakat. Kalau kedua contoh permsalahan ini diukur dari norma-norma saja secara hitam putih cenderung hasilnya menjadi tidak benar. Berkenan dengan persoalan seperti ini ada berapa prinsip yang disebut prinsip-prinsip etika.

1. Prinsip-Prinsip Etika
a. Prinsip Kebebasan
Memberikan kepada setiap orang suatu kebebasan untuk menggunakan hak-haknya misalnya, hak untuk menjelsakan duduk persoalan yang sebenarnya, hak bertanya, hak untuk membela diri, hak untuk menentukan pilihan, dsb adalah etis (benar).
b. Prinsip Kebenaran
Seperti namanya prinsip ini lebih menekankan pada kebenaran, yang penting benar, masalah untung rugi adalah masalaha lain, masalah baik buruk adalah resiko. Jadi prinsip in mencari siapa dan apa yang benar, siapa, dan apa yang salah.
c. Prinsip Keadilan
Keadilan adalah memperlakukan orang secara seimbang, tapi nukan sama rata sama rasa. Karena adil adalah memberikan kepada setiap orang apa yang menjadi haknya sesuai dengan kesalahan atau jasa yang diperbuatnya, juga sesuai menurut kedudukan masing-masing. Bila seseorang bersalah haknya adalah dihukum, sedangkan orang yang berjasa haknya adalah diberi penghargaan sesuai berat ringan kesalahan atau besar kecil jasa yang dilakukannya. Menghkum penjahat dan menghargai penjasa, adalah etis, sebaliknya tidak menghukum penjahat dan menekan penjasa adalah tidak etis. Dalam hal ini ada sloka “Tata manut lungguh” maksudnya, penghormatan dan tata krama masing-masing sesuai dengan posisi dan status masing-masing.
d. Prinsip Kerahasiaan
Prinsip ini adalah prinsip yang melihat dari segi derajat kerahasiaan sesuatu. Setiap orang punya rahasia pribadi masing-masing. Tidaklah etis membeberkan rahasia orang tidak pada tempatnya, kecuali memang hal rahasia itu yang dibahas. Maling kawakan pun dibilang maling, akan tersinggung. Tidak etis apabila mengatakan orang maling di muka umu bila permasalahan yang sedang dibahas tidak ada sangkut pautnya dengan predikat maling itu.
e. Prinsip Tidak Merugikan
Prinsip ini berpatokan asal tidak merugikan orang lain. Apapun perbuatan seseorang yang penting tidak merugikan orang lain, maka tidaklah tidak etis.
f. Prinsip Menguntungkan
Prinsip ini berorientsi pada keuntungan. Apapun perbuatan itu asal menguntungkan para pihak atau orang banyak dianggp etis.

2. Hita Tan Hita Wasana
Pada akhirnya ukuran benar dan salah dalam etika Hindu adalah “Hita tan hita wasana”. Prinsipnya adalah berorientasi pada hasil akhir.
Wasana artinya akibat, efek, atau dampak.
Hita artinya serba baik seperti aman, damai, sejahtera, dsb.
Adapun perbuatan, tindakan atau putusan yang diambil asal menyebabkan aman sejahtera (hita wasana) adalah benar. Sebaliknya walaupun secara de fakto dan de yure benar, tapi menimbulkan dampak yang merusak hubungan atau berakibat tidak baik bagi para pihak dan orang banyak adalah salah.
Suatu contoh dalam Sarasamuscaya diuraikan sebagai berikut ini, yaitu :
Artinya : “Mon mithya ikang ujar, teher mengede hita juga, magawe sukha wasana ring sarwabhawa, sadhu ngaranya, mon yata bhuta towi yan tan pangede sukhawasana ring sarwabhawa, mithya garanika.”
Sekalipun sesungguhnya bohong kata-kata itu, tapi betul-betul menimbulkan hita juga, menyebabkan bahagianya berbagai makhluk itu jujur disebut. Walaupun jelas sesuai kenyataan sekalipun, bila tidak menyebabkan senang hati semua makhluk pada hakekatnya bohong itu.
(SS, 134)

Singkatnya, bila membawa “Hita wasana” benar, bila tidak “Hita wasana” salah.

D. NILAI ETIKA DALAM AJARAN HINDU
Agama Hindu sangat menjunjung tinggi sila (etika). Kitab Wrehaspati Tattwa meletakkan sila nomor satu pada ajaran dharma bukanlah suatu kebetulan. Melainkan mempunyai arti strategis bahwa di antara tujuh bagian dharma (sila, yajna, tapa, dana, prawrejya, diksas, dan yoga) sila adalah yang pertama dan utama. Tanpa sila yang lain tak akan ada artinya dan tak akan berhasil. Hidup ini pun tak ad artinya bila tidak diemban dengan sila. Tak ada artinya kaya, sakti, jabatan tinggi, rupawan, dsb bila tanpa sila. Perilaku yang bertentangan dengan sila disebut asusila atau dursila akan menghilangkan nama baik bahkan jatuh menjadi nica (orang rendahan). Orang yang demikian hakekatnya mati walaupun masih bernapas dan kuat lincah. Lalu apa artinya kekayaan, jabatan tinggi, kesaktian, dll bila tanpa sila.
“Sila ktikang predhana ring dadi wwang”, yang artinya kemulyaan orang terletak pada silanya.
(SS, 160)
Bila sila/etika baik, walupun ia berasal dari kalangan masyarakat bawah miskin, kurang pintar, masih muda, dia adalah orang mulia yang patut dihormati. Sebaliknya walaupun ia dari bangsawan tinggi kaya pintar, jabatan tinggi, sakti berumur, tapi asusila/dursila sesungguhnya dia orang rendahan dan tak patut dihormati.
(SS, 161)
Pada jaman Krtha Yuga, manusia sangat mulia dan yang diutamakan pada jaman ini adalah tapa disebutkan “Tapah param kertha yuge”, artinya tapa adalah yang paling utama pada jaman Krtha Yuga; siapa yang lebih mampu melakukan tapa (mengendalikan diri) dia yang dianggap paling mulia dan paling dihormati.
(M. Dh, 1.86)
Memang hsil tapa-brata itu sangat tinggi nilainya; hampir semua tokoh-tokoh Hindu seperti para Maha Rsi di jaman yang lampau lahir dari Tapa Brata, maksudnya menjadi besar dan sangat mulia karena hasil tapanya. Namun Bh. Brgu tetap meletakkan sila sebagai yang terbaik.
Artinya : “Sarwasya tapasomulam acaram jagrhuh param”
Dari semua hasil Tapa Brata dan lain sebagainya, tetap perbuatan baik (sila) adalah yang terbaik.
(M. Dh. 1.11C)
II. BEBERAPA AJARAN ETIKA HINDU

A. CATUR PRAWERTHI
Catur Prawerthi adalah empat perilaku mulia yang dianjurkan dalam ajaran etika Hindu.
1. Arjawa
“Arjawa si duga-duga bener”, artinya Arjawa adalah benar-benar lurus atau benar-benar jujur. Sama sekali tidak ada maksud untuk menyimpang dari kebenaran. “Apaksa Partha” artinya tidak berdiplomasi untuk mendapatkan pembenar dalam mengelabui kebenaran. Arjawa merupakan penyucian pikiran (Manacika Parisudha).
“Mamah Satyena Sudhayati”, artinya pikiran diparisudha atau disucikan dengan kejujuran.
(M. Dh. V. 109)

2. Anresamsya
“Anresamsya ngaranya, si arimbawa, tan swartha kewala, nging parartha”, artinya Anresamsya adalah arimbawa, tidak mendahulukan atau mementingkan diri sendiri, melainkan mendahulukan kepentingan orang banyak. (SS. 259). Berarti orang yang Anresamsya, tidak egois, bersifat sosial, dan demokratis. Dia mendengar dan menerima/menghargai pendapat masyarakat. Sehingga ada kecenderungan memperoleh “Kajana nuragan” artinya dicintai oleh masyarakat.

3. Dama
“Dama ngaranya, wruh miluluri awaknya, tumang guha awaknya”
(SS. 254)
Artinya, yang disebut Dama adalah bisa menasehati dan menyalahkan diri sendiri. Bisa menertawakan diri sendiri, apalagi mampu menyadarkan diri (matuturi) adalah orang bijaksana dan akan menumbuhkan kearifan pribadi. Orang yang dama akan menjadi “danta” artinya kepribadiannya suci.
Sarasamuscaya menjelaskan bahwa pada hakekatnya bukanlah orang yang membasahi dirinya dengan air disebut mandi, melainkan ia yang danta (suci) karena dama-lah disebut mandi yang sesungguhnya.
4. Indriya Nigraha
“Indriya nigraha ngaranya, humeret indriya tan wineh ri wisayannya”, artinya Indriya nigraha adalah mengekang atau mengendalikan indriya, tidak mengumbar nafsu untuk menikmati kesenangannya.
(SS. 63)
Bila indriya terkendali hakekatnya adalah sorga, tapi bila tidak terkendali hakekatnya adalah neraka.
(SS. 71)
Pahala orang yang dapat mengendalikan indriya sedikitnya ada 7 macam, yaitu :
a. Kadirgha yusan : panjang umur
b. Ulah rahayu : perilaku menjadi baik dan benar
c. Pagehing yoga : teguh melaksanakan yoga
d. Kasaktin : memperoleh kekuatan batin
e. Yasa : buah ibadah, nama baik
f. Dharma : memiliki kebenaran dan keadilan
g. Artha : menjadi hartawan, keberhasilan. (SS. 72)

B. DASA KARMA PATHA
Dasa Karma Phala adalah sepuluh pengendalian gerak/karma, yang terdiri dari 4 pengendalian Sabda ( kata-kata), 3 pengendalian Bayu (perilaku), dan 3 Idep (pikiran).
1. Pengendalian Sabda :
a. Tan ujar Ahala : tidak berkata-kata jahat dan tidak berkata-kata jorok
b. Tan ujar apergas : tidak berkat-kata kasar (keras bernada marah)
c. Tan ujar pisuna : tidak memfintah
d. Tan ujar mithya : tidak berkata bohong. (SS. 75)

2. Pengendalian Bayu :
a. Tan anghala-hala : tidak berbuat jahat/kejam
b. Tan amati-mati : tidak membunuh
c. Tan paradara : tidak berzinah. (SS. 76)

3. Pengendalian Idep :
a. Tan engin mwang dengkya ri drebyaning len :
tidak dengki dan menginginkan pada milik orang lain
b. Tan krodha ring sarwa satwa :
tidak membunuh makhluk lain
c. Mamituhwa hanaring karma – phala :
yakin adanya hukum karma. (SS. 74)

Berkenaan dengan “Anghala-hala dan ujar ahala” (berbuat jahat) ada Upanisad menjelaskan sebagai berikut :
“Orang yang berkata secara tidak benar dan merugikan orang lain, itu merupakan kejahatan. Itu adalah benar-benar sutu kejahatan.”
(Brh. Ary. Up. III. 2)
“Orang yang bernapsa secara tidak benar dan merugikan orang lain, itu merupakan suatu kejahatan, itu benar-benar suatu kejahatan.”
(Brh. Ary. Up. III. 3)
“Orang yang melihat sesuatu secara tidak benar dan merugikan orang lain, itu merupakan suatu kejahatan. Itu benar-benar suatu kejahatan.”
(Brh. Ary. Up. III. 4)
“Orang yang mendengarkan sesuatu secara tidak benar dan merugikan orang lain, itu merupakan suatu kejahatan. Itu benar-benar suatu kejahatan.”
(Brh. Ary. Up. III. 5)
“Orang yang berpikir secara tidak benar dan merugikan orang lain, itu merupakan suatu kejahatan. Itu benar-benar suatu kejahatan.”
(Brh. Ary. Up. III. 6)
Berkenaan dengan “Tan amati-mati” ada pengecualian, yaitu :
a. Dharma Wigata = Boleh membunuh demi kepentingan dharma, misalnya untuk Yadnya, membunuh musuh demi tegaknya dharma, dll.
b. Yoga Wigata = Boleh membunuh untuk keselamatan jiwa/diri sendiri, misalnya membunuh orang yang ingin membunuh diri kita, membunuh binatang-binatang yang membahayakan kesehatan/jiwa, dll.
C. PUNYA KARMA DAN KARMA PAPA
Punya Karma adalah karma yang menjadi sebab adanya pahala yang baik, seperti “ibadah yang berhasil”. Misalnya, Satwika Yadnya yang berhasil, Brata Siwa Ratri yang berhasil, Yoga yang berhasil, dsb. Berhasil disini dimaksudkan, tulus memenuhi segala persyaratan sehingga menurut hukumnya membawa pahala yang positif.
Sedangkan Karma Papa adalah karma yang menimbulkan keterikatan dan kesengsaraan. Jadi, Karma Papa identik dengan dosa. Dosa disebut juga “Pataka” yang selalu membawa bencana. Tujuan hidup manusia adalah untuk membebaskan diri dari papa yang dapat disamakan dengan “Papa neraka”, artinya terikat, hina dina, dan sengsara; obat satu-satunya ialah berbuat baik (Subha Karma) lebih khusus lagi adalah Punya Karma. (SS. 4). Orang beriman selalu berusaha menghindari Karma papa (dosa) dan menabung Punya Karma sebanyak-banyaknya. Karma Papa yaitu dosa atau Pataka ada tingkat-tingkatnya ada lebih besar ada juga yang lebih kecil, yaitu :
1. Upa Pataka (dosa kecil)
Yang tergolong ke dalam Upa Pataka adalah :
a. Gowandha = membunuh lembu
b. Yuwati wadha = membunuh wanita
c. Bala wadha = membunuh anak-anak
d. Wrdha wadha = membunuh orang yang tua renta
e. Agaradaha = menyerang dengan senjata dan menyakiti orang
(Slokantara, 15)

2. Maha Pataka (dosa besar)
a. Brahma wadha = membunuh Brahmana
b. Surapang = memaksa pendeta minum minuman keras
c. Suwarna setya = mencuri emas
d. Kanya wighna = memperkosa anak wanita dibawah umur
e. Guru wadha = membunuh guru, dsb
(Slokantara, 16)

3. Ati Pataka (dosa terbesar)
a. Swa putribhajana = memperkosa putri sendiri
b. Mater bhajana = bersenggama dengan ibu sendiri
c. Lingga grahana = merusak pura, dsb.
(Slokantara, 17)

Dosa atau pataka yang disebut sebanyak 13 dalam Slokantara sloka 15-17 ini adalah yang menonjol-menonjol saja, tentu masih sangat banyak lagi yan lain, seperti Brhunahatya (menggugurkan kandungan), Alpaka Guru (berkhianat pada orang tua/guru), Jenek anginum (ketergantungan pada minuman-minuman beralkohol/narkoba), bahkan makan daging maupun ikan tanpa mendoakan rohnya agar diterima Yang Maha Pencipta dan kelak bila lahir kembali semoga berhenti menjadi binatang atau ikan, melainkan menjadi manusia, perilaku ini pun disebut dosa namanya “dosa maya”.

D. WIWEKA
1. Pengertian dan Keutamaan Pikiran
Wiweka artinya daya membedakan.
Daya membedakan antara yang benar dengan yang salah, amal, dan dosa, baik-buruk, sejati dan palsu; ini sangat menentukan “keputusan hati’ yang disebut “Nisacaya Jnana”. Sedangkan “keputusan hati” akan mendorong dan mewarnai ucapan maupun tindakan.


Artinya : “Dadi pwang niscaya jnana lumekas tak ujar, lumekasang maprawerthi”
Bila keputusan hati telah terbentuk maka keluarlah kata-kata dan gerak perilaku.
(88. 79)

Jenis atau model serta sifat kata-kata ataupun perilaku yang timbul, sangat tergantung pada Niscaya Jnana.
Jadi, kemampuan melakukan Wiweka sangat membantu untuk menjadi lebih bijak dan lebih arif dalam “Angraksa acara rahayu” (menjaga agar perilaku tetap benar dan baik). Disini dibutuhkan ketangkasan berpikir. Dalam Kekawin Niti Sastra ada syair sbb :




Artinya : “Wenten wang sugih artha hina sabhimuktinya alpa ring bhusana,
Wenten wong guna manta sila naya hima anut rikang durjana,
Wang dirghayusa wredha hina ytan anuting dhamosastro lahen,
Yekung janma nirarthaka traya wilangnya uripnya nir tan padon.”
Ada orang kaya harta tapi sangat kurang dalam berpakaian dan makan-minum.
Ada orang terpelajar dan susila, tetapi kurang tangkas berpikir akhirnya mengikuti orang-orang jahat.
Ada lagi orang tua yang sudah lama hidup, tapi perilakunya serba menyimpang dari dharma.
Ketiga orang tersebut adalh orang tak sempurna, percuma saja hidup tak ada gunanya.

Menurut Kitab Manawa Dharma Sastra ; diantara yang hidup manusia punya kelebihan daya pikir (Manah), maka kualitas manusia sangat ditentukan oleh kualitas daya pikirnya.





Artinya : Bhutanam paminah sresthan,
Pranimam budhijiwinah,
Buddhimatsu narah srestha,
Nresa brahmanah smrtah,
Diantara sesama ciptaan Tuhan, yang berjiwalah yang lebih utama,
Diantara yang berjiwa yang hidup dengan pikiranlah yang lebih utama,
Diantara yang hidup dengan pikiran manusialah yang lebih utama,
Diantara manusia tak ada yang lebih mulia daripada Brahmana. (Brahmana dalam arti kualitas bukan Kasta)
(M. Bh. S. 1. 96)

Dengan pikiran manusia akan dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk antara yang patut dan tak patut.





Artinya : “Ri sakweing sarwa bhuta ikang jatma wong jugaa wenang gumawayaken Subha Asubha Karma, Kuneng panentaksana ri subhakarma juga ikang asubha karma, phalaning dadi wwangika.”
Diantara makhluk mnusia sajalah yang mengerti tentang perbuatan baik atau buruk.
Gunanya hidup menjadi manusia adalah untuk merubah perbuatan-perbuatan buruk ke dalam perbuatan-perbuatan yang baik dan benar.
(SS. 2)

2. Sifat Bawaan dan Sifat Dasar Manusia
a. YONI
Karma terdahulu akan berpengaruh pada sifat bawaan manusia. Arwah manusia diikuti oleh catatan karmanya yang mau tak mau harus dipertanggungjawabkan di alam akhirat.
Setelah habis dinikmati atau dipertanggungjawabkan, masih ada bekas karma itu disebut “Karma Wasana”.
Karma Wasana menjadi Yoni dibawa lahir ke dunia. Yoni inilah mewarnai sifat bakat, bahkan nasib yang lahir. Justru kesempatan lahir menjadi manusia adalah untuk memperbaiki karma yang telah menjadi Yoni ini yang akumulasinya menjadi “sifat bawaan”.

b. DAIWI SAMPAT – ASURI SAMPAT
Disamping sifat bawaan, tiap manusia mempunyai sifat dasar. Setiap manusia mempunyai sifat-sifat keraksasaan yang disebut “Asuri Sampat”.
“Asuri Sampat” adalah sifat dari “Sarira” atau tubuh manusia yang terbentuk dari Panca Maha Bhuta yang berasal dari Prakerthi yang bersifat gelap (Rau), tanpa kesadaran.
“Daiwi Sampat” adalah sifat Atman yang berbentuk dari Panca Dewa Atma, berasal dari Purusa yang bersifat terang (Ketu), sadar, suci, ringan, hidup, dsb.
Asuri Sampat muncul dalam bentuk kata nafsu, sedangkan Daiwi Sampat muncul dalam bentuk kata suci.
Orang yang bermaksud menjadi bijak, arif, dan susila, perlu belajar membedakan apa sebenarnya diri ini, kemudian membedakan hasrat atau keinginan yang muncul sewaktu-waktu.
Diri ini sesungguhnya Atman atau Sarira (badan)?


Artinya : “Dharmartha kama moksanam sariram sadharmam
Sarira (badan) adalah alat untuk mencapai Dharma (kebenaran), Artha (harta), Kama (kesenangan), dan Moksa (kebebasan jiwa yang abadi).
(Brahma Purana, 228. 45)

Jadi tubuh adalah “alat” sehingga sang diri sesngguhnya adalah Atman yang menggunakan tubuh sebagai alat.
Atman adalah tuan; tuanlah semestinya mengendalikan alat bukan alat memperalat tuan.
Bila timbul keinginan yang bersifat nafsu tanpa kesadaran itu berarti keinginan alat (Asuri Sampat) bukan keinginan diri kita yang sejati, maka perlu dipertimbangkan matang-matang sebelum berbuat.
Bila timbul keinginan yang luhur penuh kesadaran itulah keinginan diri kita yang sesungguhnya, maka jangan ragu untuk mengikuti karena Daiwi Sampat (kata hati suci) selalu benar dan tidak pernah mencelakakan kata orang bijksana.

c. TRI GUNA SAKTI
Ada lagi yang berpengaruh pada alam pikiran (Citta) setiap manusia, yaitu 3 sifat Guna yang disebut Tri Guna Sakti :
1) Sattwam
Sattwam atau Sattwika adalah sifat guna yang serba baik.




Arinya : “Ikang ambek duga-duga drdha, maso ta ya wruh ta ya ri palenan ing wastu lawan maryada, wruh ta yeng iswara tatwa, widagda ya, mamanis ta ya denya n pametwaken wuwusnya, mahaiep pindakara nyawaknya, yeka laksananing citta sattwika.”
Pikiran yang jujur, polos, cerdas dapat membedakan kepalsuan dan kesejatian sesuatu, dapat memahami falsafah ke-Tuhanan, cekatan (berfikir), manis caranya berbicara, halus lembut perilakunya, demikian gejala-gejala pikiran Sattwam.
(W. Pt. T. 17)

2) Rajah
Rajah atau Rajasika adalah sifat yang ambisius.




Artinya : “Ikang ambek krura, lawan ikang ulah krodha katatakut darpata ya sashika ya, panasbharam lobha, capala hasta, capala pada, wakcapaka, tan hana kasihnya. Paleh-paleh masiga, yeka laksananing citta si rajah ngaranya.”
Pikiran yang dahsyat (Angkara), murka menakutkan, suka memaksa dengan serius, ambisius dan loba, ringan tangan, ringan kaki, latah, tidak punya rasa kasihan, susah dilarang, demikianlah yang disebut Rajasika.
(W. Pt. T. 19)

3) Tamah
Pikiran Tamah atau Tamasika adalah pikiran yang bebal dan gelap.



Artinya : “Ikang ambek wedi wedi, luhya angemeh wuk turu, bwat angdwa-dwa, agelen amati-mati, paleh-paleh, putek hati, abwat ulatnya, yeka citta sit amah ngaranya.”
Sifat pikiran yang penakut, letih, lesi penidur, pembohong, bebal, suka membunuh, sembrono, murung hati, berat mulut, berat mata (suka muram), demikianlah sifat-sifat yang disebut Tamasika.
(W. Pt. T. 19)

Ketiga sifat Guna ini (Sattwam, Rajah, Tamah) mempengaruhi pikiran; satu sama lain saling berebut sehingga terjadi tarik-menarik yang sangat kuat.
Sifat mana yang dominan itulah yang akan mewarnai “Niscaya Jnana” yang kemudian memberi corak pada ucapan dan perilaku. Itulah sebabnya perlu Wiweka untuk dapat menentukan yang mana yang harus patut diikuti dan yang mana yang tidak harus diikuti.
read more...

POLUSI AIR


BAB I

PENDAHULUAN


1.1. Latar Belakang Masalah

Dalam kehidupan sehari-hari kita memerlukan air bersih untuk minum, memasak, mencuci dan keperluan lain. Air tersebut mempunyai standar 3 B yaitu tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak beracun. Tetapi adakalanya kita melihat air yang berwarna keruh dan berbau serta sering kali bercampur dengan benda-benda sampah seperti kaleng, plastik, dan sampah organic. Pemandangan seperti ini kita jumpai pada aliran sungai atau dikolam-kolam. Air yang demikian biasa disebut air kotor atau disebut pula air yang terpolusi. Darimana polutan itu berasal? Bagi kita, khususnya masyarakat pedesaan sungai adalah sumber air sehari-hari. Sumber polutan dapat berasal dari mana-mana. Contohnya limbah-limbah industri dibuang dan dialirkan ke sungai. Semua akhirnya bermuara di sungai dan pencemaran polutan air ini dapat merugikan manusia bila manusia mengkonsumsi air yang tercemar.


1.2. Permasalahan

Permasalahan yang akan disajikan dalam makalah ini sebagai berikut ini, yaitu :

a. Apabila polusi air disebabkan oleh zat-zat kimia buatan manusia mempunyai dampak negatif.

b. Dapat mengakibatkan penyakit bagi manusia dan hewan yang hidup di darat dan di air akan mati oleh racun.


1.3. Tujuan Penulisan

Makalah ini disusun agar mencapai tujuan sebagai berikut ini, yaitu :

a. Supaya siswa dapat lebih memahami bahaya polusi air

b. Dapat membedakan antara air yang bersih dari polusi dan air yang sudah terpolusi

c. Dapat lebih berhati-hati dalam menggunakan air yang bersih dan yang terpolusi


BAB II

PEMBAHASAN


2.1. Pengertian Polusi Air

Salah satu dampak negatif kemajuan ilmu dan teknologi yang tidak digunakan dengan benar adalah terjadinya polusi (pencemaran). Polusi adalah peristiwa masuknya zat, energi, unsur atau komponen lain yang merugikan kedalam lingkungan akibat aktivitas manusia atau proses alami. Dan segala sesuatu yang menyebabkan polusi disebut Polutan.

Sesuatu benda dapat dikatakan polutan apabila sebagai berikut ini, yaitu :

1. Kadarnya melebihi batas normal

2. Berada pada tempat dan waktu yang tidak tepat.

Polutan dapat berupa debu, bahan kimia, suara, panas, radiasi, makhluk hidup, zat-zat yang dihasilkan makhluk hidup dan sebagainya. Adanya polutan dalam jumlah yang berlebihan menyebabkan lingkungan tidak dapat mengadakan pembersihan sendiri (regenerasi). Oleh karena itu, polusi terhadap lingkungan perludideteksi secara dini dan ditangani segera dan terpadu.

Polusi Air adalah peristiwa masuknya zat, energi, unsur atau komponen lainnya kedalam air sehingga kualitas air terganggu. Kualitas air terganggu ditandai dengan perubahan bau, rasa dan warna.

Beberapa contoh polutannya antara lain sebagai berikut ini, yaitu :

a. Fosfat

Fosfat berasal dari penggunaan pupuk buatan yang berlebihan dan deterjen.

b. Nitrat dan Nitrit

Kedua senyawa ini berasal dari penggunaan pupuk buatan yang berlebihan dan proses pembusukan materi organic.

c. Poliklorin Bifenil (PCB)

Senyawa ini berasal dari pemanfaatan bahan-bahan pelumas, plastik dan alat listrik.

d. Residu Pestisida Organiklorin

Residu ini berasal dari penyemprotan pestisida padaa tanaman untuk membunuh serangga.

e. Minyak dan Hidrokarbon

Minyak dan hidrokarbon dapat berasal dari kebocoran pada roda dan kapal pengangkut minyak.

f. Radio Nuklida

Radio nuklida atau unsur radioaktif berasal dari kebocoran tangki penyimpanan limbah radioaktif.

g. Logam-logam Berat

Logam berat berasal dari industri bahan kimia, penambangan dan bensin.

h. Limbah pertanian

Limbah pertanian berasal dari kotoran hewan dan tempat penyimpanan makanan ternak.

i. Kotoran manusia

Kotoran manusia berasal dari saluran pembuangan tinja manusia.


2.2. Macam-Macam Sumber Polusi Air

Sumber polusi air antara lain limbah industri, pertanian dan rumah tangga. Ada beberapa tipe polutan yang dapat masuk perairan yaitu : bahan-bahan yang mengandung bibit penyakit, bahan-bahan yang banyak membutuhkan oksigen untuk pengurainya, bahan-bahan kimia organic dari industri atau limbah pupuk pertanian, bahan-bahan yang tidak sedimen (endapan), dan bahan-bahan yang mengandung radioaktif dan panas. Penggunaan insektisida seperti DDT (Dichloro Diphenil Trichonethan) oleh para petani, untuk memberantas hama tanaman dan serangga penyebar penyakit lain secara berlabihan dapat mengakibatkan pencemaran air. Terjadinya pembusukan yang berlebihan diperairan dapat pula menyebabkan pencemeran. Pembuangan sampah dapat mengakibatkan kadar O2 terlarut dalam air semakin berkurang karena sebagian besar dipergunakan oleh bakteri pembusuk.

Pembuangan sampah organic maupun yang anorganic yang dibuang kesungai terus-menerus, selain mencemari air, terutama dimusim hujan ini akan menimbulkan banjir. Belakangan ini musibah karena polusi air datang seakan tidak terbendung lagi disetip musim hujan. Sebenarnya air hujan adalah rahmat. Akan tetapi rahmat dapat menjadi ujian apabila kita tidak mengelolanyadengan benar.

Jika kita amati, air adalah unsur alam yang penting bagi manusia dengan sifat mengalir dan meresapnya. Apabila jalur-jalur alirannya terganggu dan lahan resapannya terbatas, air akan mengalir kesegala penjuru mengisi ruang-ruang yang paling rendah. Akhirnya terjadilah banjir. Karena itu yang disebut polusi air karena banyak kita yang kurang disiplin, misalnya dalam kebersihan lingkungan dan membuang sampah sembarangan.

Musibah banjir dapat terbagi menjadi dua akibat polusi air antara lain sebagai berikut ini, yaitu :

1. Banjir bandang (banjir besar), terjadi akibat air meluap dari jalur-jalur aliran (sungai) dengan volume air yang besar.

2. Banjir genangan yaitu banjir local (setempat) akibat tergenangnya / terkonsentrasinya air hujan disuatu daerah yang saluran air (arainase) dan lahan resapannya terbatas. Akibatnya dalam waktu tertentu (temporer) air akan mengalir disekitar lingkungan rumah kita.


2.3. Bahaya Dari Akibat Polusi Air

Bibit-bibit penyakit berbagai zat yang bersifat racun dan bahan radioaktif dapat merugikan manusia. Berbagai polutan memerlukan O2 untuk pengurainya. Jika O2 kurang, pengurainya tidak sempurna dan menyebabkan air berubah warnanya dan berbau busuk. Bahan atau logam yang berbahaya seperti arsenat, uradium, krom, timah, air raksa, benzon, tetraklorida, karbon dan lain-lain. Bahan-bahan tesebut dapat merusak organ tubuh manusia atau dapat menyebabkan kanker. Sejumlah besar limbah dari sungai akan masuk kelaut.

Polutan ini dapat merusak kehidupan air sekitar muara sungai dan sebagian kecil laut muara. Bahan-bahan yang berbahaya masuk kelaut atau samudera mempunyai akibat jangka panjang yang belum diketahui. Banyak jenis kerang-kerangan yang mungkin mengandung zat yang berbahaya untuk dimakan. Laut dapat pula tecemar oleh minyak yang asalnya mungkin dari pemukiman, pabrik, melalui sungai atau dari kapal tanker yang rusak. Minyak dapat mematikan, burung dan hewan laut lainnya, sebagai contoh, efek keracunan hingga dapat dilihat di Jepang. Merkuri yang dibuang sebuah industri plastik keteluk minamata terakumulasi di jaringan tubuh ikan dan masyarakat yang mengkonsumsinya menderita cacat dan meninggal.

Akibat yang dapat ditimbulkan oleh polusi air antara lain sebagai berikut ini, yaitu :

a. Terganggunya kehidupan organisme air karena berkurangnya, kandungan oksigen

b. Terjadinya ledakan ganggang dan tumbuhan air (eurotrofikasi)

c. Pendangkalan dasar perairan

d. Tersumbatnya penyaring reservoir, dan menyebabkan perubahan ekologi

e. Dalam jangka panjang adalah kanker dan kelahiran cacat

f. Akibat penggunaan pertisida yang berlebihan sesuai selain membunuh hama dan penyakit, juga membunuh serangga dan makhluk berguna terutama predator

g. Kematian biota kuno, seperti plankton, iakn, bahkan burung

h. Mutasi sel, kanker, dan leukeumia


2.4. Usaha-Usaha Mengatasi dan Mencegah Polusi Air

Pengenceran dan penguraian polutan air tanah sulit sekali karena airnya tidak mengalir dan tidak mengandung bakteri pengurai yang aerob jadi, air tanah yang tercemar akan tetap tercemar dalam yang waktu yang sangat lama, walau tidak ada bahan pencemaran yang masuk. Karena ini, banyak usaha untuk menjaga agar tanah tetap bersih, misalnya :

1. Menempatkan daerah industri atau pabrik jauh dari daerah perumahan atau pemukiman

2. Pembuangan limbah industri diatur sehingga tidak mencermari lingkungan atau ekosistem

3. Pengawasan terhadap penggunaan jenis – jenis pestisida dan zat – zat kimia lain yang dapat menimbulkan pencemaran

4. Memperluas gerakan penghijauan

5. Tindakan tegas terhadap perilaku pencemaran lingkungan

6. Memberikan kesadaran terhadap masyaratkat tentang arti lingkungan hidup sehingga manusia lebih lebih mencintai lingkungan hidupnya

7. Melakukan intensifikasi pertanian

Adapun cara lain untuk mengatasi polusi air atau yang dikenai dengan sebutan banjir pun ada dua macam antara lain sebagai berikut ini, yaitu :

1. Banjir Bandang dapat diatasi secara meluas dengan didukung berbagai disiplin ilmu

2. Banjir genangan dapat diatasi dengan membersihkan air dari penyumbatan yang mengakibatkan air meluap banyak orang mengatakan “Lebih baik mencegah dari pada mengatasi”, hal ini berlaku pula pada banjir genangan. Di bawah ini ada sejumlah langkah yang dapat kita lakukan untuk mencegah banjir genangan antara lain sebagai berikut ini, yaitu :

1. Dalam merencanakan jalan – jalan lingkungan baik itu program pemerintah maupun swadaya masyarakat sebaiknya memilih material jalan yang menyerap air misalnya, penggunaan bahan dari paving blok (blok – blok adukan beton yang disusun dengan rongga – rongga resapan air disela – selanya. Hal yang tidak kalah pentingnya adalah penataan saluran / drainase lingkjungan pembuatannyapun harus bersamaan dengan pembuatan jalan tersebut

2. Apabila di halaman pekarangan rumah kita masih terdapat ruang – ruang terbuka, buatlah sumur – sumur resapan air hujan sebanyak –banyaknya. Fungsi sumur resapan air ini untuk mempercepat air meresap kedalam tanah.

Dengan membuat sumur resapan air hujan tersebut, sebenarnya kita dapat memperoleh manfaat seperti berikut ini, yaitu :

a. Persediaan air bersih dalam tanah disekitar rumah kita cukup baik dan banyak

b. Tanah bekas galian sumur dapat dipergunakan untuk menimbun lahan – lahan yang rendah atau meninggikan lantai rumah

c. Apabila air hujan tidak tertampung dalam sebuah selokan – selokan rumah / talang – talang rumah, air dapat dialirkan kesumur – sumur resapan. Janganlah membuang sampah atau mengeluarkan air limbah rumah tangga (air bekas mandi, cucian dan sebagainya) kedalam sumur resapan air hujan karena bisa mencemarkan kandungan air tanah. Khusus untuk buangan air limbah rumah tangga, buatlah sumur resapan tersendiri

d. Apabila air banjir masuk kerumah mencapai ketinggian 20-50 cm satu – satunya jalan adalah meninggikan lantai rumah kita diatas ambang permukaan air banjir

e. Cara lain adalah membuat tanggul di depan pintu masuk rumah kita. Cara ini sudah umum dilakukan orang hanya teknisnya sering kurang terencana secara mendetail


BAB III

PENUTUP


3.1. Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan dari Bab II, penulis dapat menyimpulkan sebagai berikut ini, yaitu :

1. Polusi adalah peristiwa masuknya zat, energi unsure atau komponen lain ke dalam lingkungan akibat aktifitas manusia atau proses alami

2. Segala sesuatu yang menyebabkan polusi disebut polutan

3. Polusi air adalah peristiwa masuknya zat, energi, unsure, atau komponen lainya ke dalam air sehingga kualitas air terganggu

4. Sumber polusi air antara lain limbah industri, pertanian, dan rumah tangga

5. Polusi air juga dapat menimbulkan bencana diantaranya banjir

6. Elektrofikasi adalah penimbunan mineral yang menyebabkan peledakan alga secara serentak menutupi pencemaran air

7. Bahan atau logam berbahaya seperti arsenat, benzon, timah dan lain – lain dapat merusak organ tubuh manusia dan menyebabkan kanker

8. Akibat yang ditimbulkan polusi air dalam zangua pasang adalah kanker dan kelahiran bayi cacat

9. Melakukan intensifikasi pertanian

10. Banjir genangan dapat diatasi dengan membersihkan saluran air dari penyumbatan.


3.2. Saran-Saran

Berdasarkan pembahasan dari Bab II, penulis dapat memberikan saran-saran sebagai berikut ini, yaitu :

1. Hindari pemakaian obat pemberantas hama dan serangga secara berlebihan.

2. Sebaiknya kita berhati-hati dalam menggunakan air, karena air itu ada yang terpolusi dan tidak terpolusi.

3. Jagalah agar air di lingkungan rumah dan sekitarnya agar tetap bersih dan terhindar dari pencemaran air.

4. Jangan membuang sampah kesungai, dan jika terjadi penimbunan sampah di sungai akan mengakibatkan banjir.

read more...